Senin, 22 Desember 2008

Liburan ke hutan

Kalau aku libur dan Abi juga ga ke kantor, biasanya kami pergi ke hutan. Abi harus merawat porang yang ditanamnya di hutan. Porang adalah tanaman sejenis suweg yang hanya bisa tumbuh di bawah pepohonan rindang. Hasil pengolahan porang adalah tepung konyaku yang merupakan bahan baku pembuatan jeli yaitu agar-agar sejenis Nutrijel.
Main di hutan asyik banget. Ga kalah menyenangkan dengan liburan ke Kids Fun. Abi dan Umi lebih sering mengajak kami liburan di hutan dari pada ke mall. Kan gratis..... sekaligus menyenangkan. Aku bisa berlari-lari di sela porang dan pohon jati kemudian mengamati pertumbuhan porang. Ada yang berupa bunga seperti bunga bangkai dan ada juga yang langsung tumbuh dengan daun dan batang yang sempurna. Ada beberapa tanaman yang tingginya sudah melebihi aku. Jadi bisa berteduh di bawahnya.
Di dekat hutan itu ada sebuah belik yang terlindungi akar-akar pohon asem. Airnya yang jernih mengalir melalui sungai kecil menuju ke tempat yang lebih rendah. Subhanallah, maha suci Allah yang telah memberi kemampuan akar pohon untuk menyerap air.
Dengan adanya belik kami tidak kesulitan mencari air untuk membersihkan tangan dan kaki yang belepotan kena lumpur. He..he... aku males pakai sandal, enak deh bisa nginjek-injek lumpur. Lagipula, kalau nekat pakai sandal, sandalnya bisa bertambah tebal karena lumpur. Jadi berat kalau jalan... Bisa-bisa aku kalah main kejar-kejaran dengan Opi.

Selasa, 16 Desember 2008

Hadiah Istimewa

Hari ini Abi pergi ke Jakarta dan baru pulang ke rumah besok malam. Tentu saja aku dan adikku tidak ikut karena Abi pergi untuk urusan pekerjaannya di kantor. Sebelum berangkat, Abi berjanji akan memberi hadiah istimewa untukku jika aku berhasil menjadi pemenang lomba nanti malam. Peserta lomba ada tiga orang, yaitu aku, adik dan Umi. Lombanya unik banget. Begini caranya. Aku membaca satu kata pada buku Iqro’ jilid 3 kemudian Umi menulis kata yang aku baca tadi pada buku belajarnya. Siapa yang paling duluan selesai, dialah pemenangnya. Kalau adik tidak ’ngusilin’ peserta lomba lain, maka adik juga jadi pemenang lomba. Asyik kan? Umi tidak pernah berhasil selesai lebih dulu dari pada aku. Adik juga sibuk main dengan papan tulis ajabnya. Jadi aku dan adik berhak mendapatkan hadiah istimewa dari Abi. Tapi kami masih harus menunggu Abi pulang keesokan harinya.
Alhamdulillah Abi berangkat dari Jakarta tepat waktu, sehingga jam 19.30 nanti Abi sudah bisa sampai di rumah. Aku berusaha keras untuk menunggu sampai Abi pulang dengan tidak segera tidur malam itu karena tidak tidur siang tadi. Tak sabar rasanya menunggu Abi pulang. Berkali-kali aku minta Umi menelepon Abi menanyakan di mana posisinya sekarang.
Akhirnya jam 7.45 tepat, Abi pulang dengan hadiah istimewanya. Tahukah kawan hadiah apakah yang dibawa Abi dari Jakarta untuk kami? Hadiah yang sangat istimewa itu adalah sebutir permen rasa anggur untuk adik dan rasa mangga untukku. Manis luar biasa J. Adik melompat-lompat saking senangnya. ”Enyak ya,” kata adikku. Aku bangga karena hadiah itu kuperoleh setelah bisa membaca iqro’ dengan lancar.
Umi juga pernah memberi kami hadiah istimewa itu saat kami berdua berhasil meninggalkan dot untuk minum susu. Sekarang kami berdua minum dengan cangkir 'cup-cup'.
Permen memang menjadi hadiah istimewa untuk kami, karena tidak setiap saat aku makan permen. Padahal aku sangat suka permen. Lihat nih, gigiku dan adikku masih utuh. Alhamdulillah, belum ada yang gigis alias keropos karena tidak ada 'monster gigi' yang mau menyerang.
Nah, hadiah istimewa kami sangat luar biasa kan?

Senin, 20 Oktober 2008

Becak Mbah Tarso

Waktu aku di Jogja, sekolahku, TK Salman Al Farisi 2, terletak tidak terlalu jauh dari rumah. Sehingga, mbak Tini bisa menjemputku pulang sekolah dengan berjalan kaki bersama adik Sofi. Tapi sekolahku sekarang di Solo, TK Permata Hati Kuwiran, terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Karena Ummi maupun Abi tidak bisa tiap hari menjemputku pulang sekolah, aku pulang naik becak Mbah Tarso.
Mbah Tarso adalah tetangga kami di Perumahan Tiara Ardi Purbayan. Walaupun usianya sudah 70 tahun, Mbah Tarso masih kuat mengayuh becaknya. Hampir tiap hari Mbah Tarso mengantarku pulang ke rumah dengan becaknya. Belum pernah sekalipun Mbah Tarso terlambat menjemputku. Sebelum jam 12, becak mbah Tarso sudah diparkir di jalan depan sekolah. Dan begitu lonceng tanda pulang sekolah berbunyi, aku sudah melihat Mbah Tarso menungguku di depan pagar. Kalau Ummi yang jemput, kadang-kadang aku masih harus menunggu di depan pintu kelas
Aku duduk sendiri saja di becak Mbah Tarso yang melaju dari Kuwiran, Makam Haji menuju Purbayan. Alhamdulillah dengan tubuhku yang tidak terlalu berat, Mbah Tarso tidak terlalu kepayahan mengayuh becaknya. Naik becak itu asyik lo. Walaupun tidak memakai AC, aku tidak merasa gerah J . Kayak yang di lagu itu, bisa melihat dengan aksi ke kanan dan ke kiri

Kamis, 16 Oktober 2008

Lubang Biopori..

Umi punya barang baru, katanya bor buat bikin lubang biopori. Panjang banget, lebih tinggi dari aku, apalagi adik.
Kami sudah bikin satu lubang di samping rumah. Pertamanya abi yang bikin lubang, terus aku, umi, dan adik, semuanya bantuin. Nggak selesai-selesai karena dalam banget. Batang bornya saja sampai hampir tenggelam semua.
Kata abi, lubang itu dibuat untuk kemudian diisi dengan sampah organik. Terus ditutup bagian atasnya dengan kaleng bekas susu Ayi, yang dilubangi kecil-kecil dan ditutupkan terbalik.
Sampah di dalam lubang itu akan menarik cacing dan binatang di dalam tanah, terus mereka akan membuat lubang-lubang kecil di sekitar lubang yang bekas di bor.

Karena ada lubang biopori ini, air hujan akan lebih cepat diserap sama tanah, dan tidak menggenang.
Mungkin memang harus begitu, soalnya pas hujan pertama kali, got di depan rumah sudah penuh dengan air rata dengan jalan. Tinggal sedikit lagi, pasti sudah masuk rumah..
Hii sereemm.. kalau air masuk rumah semua bajuku di lemari bisa basah kebanjiran, tendaku juga dong..

Minggu, 21 September 2008

Main Pasir

Aku seneng simbah mbangun rumah lagi. Bukan karena rumah baru ini lebih bagus, atau lebih dekat ke rumah eyang. Tapi karena buat mbangun rumah pasti perlu pasir..Hi hi.. tentu saja..

Aku seneng banget bisa main di tumpukan pasir. Kalau gundukannya masih tinggi, setelah susah payah manjat sampai puncak, turunnya bisa sambil meluncur... wiiiii... Jangankan Shofi, yang sering keplorot kalo manjat, kak Si dan kak Uli saja sering keasyikan main, sampai diteriak-teriaki sama simbah.

Kalau pasir sudah hampir habis, na.. giliran main gua-guaan. Setelah digali sampai tanganku nggak bisa masuk lagi saking dalamnya, mainan abi waktu kecil, kayak boneka beruang plastik, keledai, kuda-kudaan kecil, semuanya masuk ke gua. Pura-puranya mereka sembunyi di situ..

Pernah mereka sampai tidur di situ, gara-garanya aku lupa ngambil dan bersihkan mainan itu dari pasir. Hi hi hi..

Kamis, 18 September 2008

Kantong Plastik

Beberapa saat setelah aku membuka mata di pagi hari, kadang Umi mengajakku jalan-jalan. Biasanya sih diajak ke warung untuk belanja sayur yang akan dimasak siang harinya. Ibu penjual warung yang ramah itu selalu memasukkan belanjaan yang sudah dihitung harganya ke dalam kantong plastik baru sebelum diserahkan kepada pelanggannya.
Jika dalam sehari ada 20 orang pembeli artinya jumlah plastik baru di dunia bertambah 20 kantong. Jika di desaku ada 10 orang penjual artinya ada 200 kantong plastik baru dalam sehari. Jika Indonesia memiliki 1000 desa, wow.. dalam sehari ada 200.000 lembar. Bagaimana kalau itu berlangsung selama seminggu, sebulan, setahun??? Waduh, ternyata banyak sekali ya. Padahal kata Ori (Majalah Ori), sampah plastik yang dibuang baru akan terurai setelah puluhan tahun. Wah, kan kasihan tanahnya. Bisa keracunan tuh bakteri-bakteri pengurai di dalam tanah. Nah itu yang menyebabkan banjir di musim hujan dan berkurangnya sumber air di musim kemarau.
Karena itulah Umi sering menolak plastik yang diberikan Ibu penjual dan sebagai gantinya menyerahkan plastik yang dibawanya sendiri dari rumah. Ga cuma di warung lo. Ke supermarket pun Umi selalu membawa kantong plastik, walaupun kadang hal itu membuat heran mbak kasirnya. Tidak jarang Umi harus bicara cukup lama sampai akhirnya dibolehkan untuk memasukkan belanjaan ke dalam kantong plastik lecek yang dibawanya. Nah untuk menghindari perdebatan, kami menyiapkan kantong plastik dengan label yang sesuai toko yang akan dituju. Jadi kalo ke Gramedia ya membawa kantong plastik dengan label Gramedia. Untuk jumlah barang belanjaan yang banyak, biasanya kami minta dibungkus dengan kardus besar. Walaupun sebenarnya agak repot juga kalau dibawa dengan naik sepeda motor. Tapi rasanya hal itu tidak seberapa dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan karena menumpuknya jumlah sampah plastik.
Jika setiap orang bisa mengurangi konsumsi kantong plastik mulai sekarang, Insya Allah aku yakin pada saat aku dewasa nanti bumi tidak akan terbebani menumpuknya sampah plastik. Semoga bumi masih layak untuk ditinggali sampai anak cucuku kelak.

Aku dan Televisi


Tidak jarang Abi mengajakku jalan-jalan saat sang mentari sudah terbenam. Saat jalan-jalan di malam hari itu, adikku, Sofi, tak henti-hentinya menunjuk-nunjuk cahaya lampu. Kelap kelip, katanya. Yang menarik perhatianku adalah pantulan cahaya yang berasal dari televisi di hampir semua rumah penduduk. Juga suara soundtrack sinetron terdengar seragam dari rumah ke rumah. Berarti, sebagian besar orang meluangkan waktunya untuk menonton TV di malam hari. Aku jadi heran, karena di rumahku tidak ada yang menyalakan TV setelah adzan maghrib terdengar. Ga tau juga sih kalau aku sudah tidur. Mungkin Abi nonton film kesukaannya setelah anak-anaknya terlelap.
Di malam hari setelah sholat maghrib, aku biasanya belajar membaca dan Qiroati bersama Umi. Adikku sibuk menyusun legonya. Sedangkan mbak Tini belajar Iqrajuga. Hebat lo dia, sudah hampir jilid 6! Kalau aku sih, alhamdullilah sudah mau khatam jilid 1. Mungkin minggu depan sudah jilid 2 deh. Saat Abi pulang merupakan waktu yang sangat aku tunggu. Setelah Abi makan malam, aku dan adikku langsung asyik bermain bersama Abi. Main kuda-kudaan, membuat kapal kertas, main game atau hanya sekedar bercanda bersama adikku.
Abi membuat peraturan yang ketat soal waktu nonton TV. Kami hanya boleh nonton TV maksimal 3 jam sehari. Jadi TV di rumahku hanya berfungsi di siang hari untuk menayangkan acara kesukaanku yaitu si Bolang. si Unyil dan Jalan Sesama. Aku jadi tahu aneka ragam permainan anak-anak dari banyak daerah di Indonesia. Petualangan mereka membuatku menyadari betapa indah dan luasnya tanah airku. Aku tidak terlalu suka film kartun, apalagi sinetron. Banyakan orang marah-marah sih. Adikku juga menjerit-jerit ketakutan kalau melihat Naruto dan Aang beraksi. Umi memilihkan film kartun untuk kami nikmati. Dora, Diego, Blue Clues atau Backyardigan menjadi film favoritku dan adikku.
Aku jadi bertanya sama Umi, kalau di malam hari TV masih menyala, kapan dong waktunya anak-anak untuk belajar. Apa ayah dan ibunya juga masih punya waktu untuk sekedar ngobrol dengan anak-anak? Kan seharian setiap orang sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing? Padahal, kalau sudah di depan TV kan biasanya jadi males ngapa-ngapain.
Tanpa TV, banyak hal asyik yang bisa aku lakukan. Aku bisa bersepeda, lari-larian bersama teman, menggambar, mewarnai, main masak-masakan sama adikku, membaca buku, main rumah-rumahan di tenda, membuat binatang dari plastisin, bantuin Umi masak, menggunting-gunting, menempel. Pokoknya seru deh!