Waktu aku di Jogja, sekolahku, TK Salman Al Farisi 2, terletak tidak terlalu jauh dari rumah. Sehingga, mbak Tini bisa menjemputku pulang sekolah dengan berjalan kaki bersama adik Sofi. Tapi sekolahku sekarang di Solo, TK Permata Hati Kuwiran, terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Karena Ummi maupun Abi tidak bisa tiap hari menjemputku pulang sekolah, aku pulang naik becak Mbah Tarso.
Mbah Tarso adalah tetangga kami di Perumahan Tiara Ardi Purbayan. Walaupun usianya sudah 70 tahun, Mbah Tarso masih kuat mengayuh becaknya. Hampir tiap hari Mbah Tarso mengantarku pulang ke rumah dengan becaknya. Belum pernah sekalipun Mbah Tarso terlambat menjemputku. Sebelum jam 12, becak mbah Tarso sudah diparkir di jalan depan sekolah. Dan begitu lonceng tanda pulang sekolah berbunyi, aku sudah melihat Mbah Tarso menungguku di depan pagar. Kalau Ummi yang jemput, kadang-kadang aku masih harus menunggu di depan pintu kelas
Aku duduk sendiri saja di becak Mbah Tarso yang melaju dari Kuwiran, Makam Haji menuju Purbayan. Alhamdulillah dengan tubuhku yang tidak terlalu berat, Mbah Tarso tidak terlalu kepayahan mengayuh becaknya. Naik becak itu asyik lo. Walaupun tidak memakai AC, aku tidak merasa gerah J . Kayak yang di lagu itu, bisa melihat dengan aksi ke kanan dan ke kiri
Senin, 20 Oktober 2008
Kamis, 16 Oktober 2008
Lubang Biopori..
Umi punya barang baru, katanya bor buat bikin lubang biopori. Panjang banget, lebih tinggi dari aku, apalagi adik.
Kami sudah bikin satu lubang di samping rumah. Pertamanya abi yang bikin lubang, terus aku, umi, dan adik, semuanya bantuin. Nggak selesai-selesai karena dalam banget. Batang bornya saja sampai hampir tenggelam semua.
Kata abi, lubang itu dibuat untuk kemudian diisi dengan sampah organik. Terus ditutup bagian atasnya dengan kaleng bekas susu Ayi, yang dilubangi kecil-kecil dan ditutupkan terbalik.
Sampah di dalam lubang itu akan menarik cacing dan binatang di dalam tanah, terus mereka akan membuat lubang-lubang kecil di sekitar lubang yang bekas di bor.
Karena ada lubang biopori ini, air hujan akan lebih cepat diserap sama tanah, dan tidak menggenang.
Mungkin memang harus begitu, soalnya pas hujan pertama kali, got di depan rumah sudah penuh dengan air rata dengan jalan. Tinggal sedikit lagi, pasti sudah masuk rumah..
Hii sereemm.. kalau air masuk rumah semua bajuku di lemari bisa basah kebanjiran, tendaku juga dong..
Kami sudah bikin satu lubang di samping rumah. Pertamanya abi yang bikin lubang, terus aku, umi, dan adik, semuanya bantuin. Nggak selesai-selesai karena dalam banget. Batang bornya saja sampai hampir tenggelam semua.
Kata abi, lubang itu dibuat untuk kemudian diisi dengan sampah organik. Terus ditutup bagian atasnya dengan kaleng bekas susu Ayi, yang dilubangi kecil-kecil dan ditutupkan terbalik.
Sampah di dalam lubang itu akan menarik cacing dan binatang di dalam tanah, terus mereka akan membuat lubang-lubang kecil di sekitar lubang yang bekas di bor.
Karena ada lubang biopori ini, air hujan akan lebih cepat diserap sama tanah, dan tidak menggenang.
Mungkin memang harus begitu, soalnya pas hujan pertama kali, got di depan rumah sudah penuh dengan air rata dengan jalan. Tinggal sedikit lagi, pasti sudah masuk rumah..
Hii sereemm.. kalau air masuk rumah semua bajuku di lemari bisa basah kebanjiran, tendaku juga dong..
Langganan:
Postingan (Atom)
