Minggu, 21 September 2008

Main Pasir

Aku seneng simbah mbangun rumah lagi. Bukan karena rumah baru ini lebih bagus, atau lebih dekat ke rumah eyang. Tapi karena buat mbangun rumah pasti perlu pasir..Hi hi.. tentu saja..

Aku seneng banget bisa main di tumpukan pasir. Kalau gundukannya masih tinggi, setelah susah payah manjat sampai puncak, turunnya bisa sambil meluncur... wiiiii... Jangankan Shofi, yang sering keplorot kalo manjat, kak Si dan kak Uli saja sering keasyikan main, sampai diteriak-teriaki sama simbah.

Kalau pasir sudah hampir habis, na.. giliran main gua-guaan. Setelah digali sampai tanganku nggak bisa masuk lagi saking dalamnya, mainan abi waktu kecil, kayak boneka beruang plastik, keledai, kuda-kudaan kecil, semuanya masuk ke gua. Pura-puranya mereka sembunyi di situ..

Pernah mereka sampai tidur di situ, gara-garanya aku lupa ngambil dan bersihkan mainan itu dari pasir. Hi hi hi..

Kamis, 18 September 2008

Kantong Plastik

Beberapa saat setelah aku membuka mata di pagi hari, kadang Umi mengajakku jalan-jalan. Biasanya sih diajak ke warung untuk belanja sayur yang akan dimasak siang harinya. Ibu penjual warung yang ramah itu selalu memasukkan belanjaan yang sudah dihitung harganya ke dalam kantong plastik baru sebelum diserahkan kepada pelanggannya.
Jika dalam sehari ada 20 orang pembeli artinya jumlah plastik baru di dunia bertambah 20 kantong. Jika di desaku ada 10 orang penjual artinya ada 200 kantong plastik baru dalam sehari. Jika Indonesia memiliki 1000 desa, wow.. dalam sehari ada 200.000 lembar. Bagaimana kalau itu berlangsung selama seminggu, sebulan, setahun??? Waduh, ternyata banyak sekali ya. Padahal kata Ori (Majalah Ori), sampah plastik yang dibuang baru akan terurai setelah puluhan tahun. Wah, kan kasihan tanahnya. Bisa keracunan tuh bakteri-bakteri pengurai di dalam tanah. Nah itu yang menyebabkan banjir di musim hujan dan berkurangnya sumber air di musim kemarau.
Karena itulah Umi sering menolak plastik yang diberikan Ibu penjual dan sebagai gantinya menyerahkan plastik yang dibawanya sendiri dari rumah. Ga cuma di warung lo. Ke supermarket pun Umi selalu membawa kantong plastik, walaupun kadang hal itu membuat heran mbak kasirnya. Tidak jarang Umi harus bicara cukup lama sampai akhirnya dibolehkan untuk memasukkan belanjaan ke dalam kantong plastik lecek yang dibawanya. Nah untuk menghindari perdebatan, kami menyiapkan kantong plastik dengan label yang sesuai toko yang akan dituju. Jadi kalo ke Gramedia ya membawa kantong plastik dengan label Gramedia. Untuk jumlah barang belanjaan yang banyak, biasanya kami minta dibungkus dengan kardus besar. Walaupun sebenarnya agak repot juga kalau dibawa dengan naik sepeda motor. Tapi rasanya hal itu tidak seberapa dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan karena menumpuknya jumlah sampah plastik.
Jika setiap orang bisa mengurangi konsumsi kantong plastik mulai sekarang, Insya Allah aku yakin pada saat aku dewasa nanti bumi tidak akan terbebani menumpuknya sampah plastik. Semoga bumi masih layak untuk ditinggali sampai anak cucuku kelak.

Aku dan Televisi


Tidak jarang Abi mengajakku jalan-jalan saat sang mentari sudah terbenam. Saat jalan-jalan di malam hari itu, adikku, Sofi, tak henti-hentinya menunjuk-nunjuk cahaya lampu. Kelap kelip, katanya. Yang menarik perhatianku adalah pantulan cahaya yang berasal dari televisi di hampir semua rumah penduduk. Juga suara soundtrack sinetron terdengar seragam dari rumah ke rumah. Berarti, sebagian besar orang meluangkan waktunya untuk menonton TV di malam hari. Aku jadi heran, karena di rumahku tidak ada yang menyalakan TV setelah adzan maghrib terdengar. Ga tau juga sih kalau aku sudah tidur. Mungkin Abi nonton film kesukaannya setelah anak-anaknya terlelap.
Di malam hari setelah sholat maghrib, aku biasanya belajar membaca dan Qiroati bersama Umi. Adikku sibuk menyusun legonya. Sedangkan mbak Tini belajar Iqrajuga. Hebat lo dia, sudah hampir jilid 6! Kalau aku sih, alhamdullilah sudah mau khatam jilid 1. Mungkin minggu depan sudah jilid 2 deh. Saat Abi pulang merupakan waktu yang sangat aku tunggu. Setelah Abi makan malam, aku dan adikku langsung asyik bermain bersama Abi. Main kuda-kudaan, membuat kapal kertas, main game atau hanya sekedar bercanda bersama adikku.
Abi membuat peraturan yang ketat soal waktu nonton TV. Kami hanya boleh nonton TV maksimal 3 jam sehari. Jadi TV di rumahku hanya berfungsi di siang hari untuk menayangkan acara kesukaanku yaitu si Bolang. si Unyil dan Jalan Sesama. Aku jadi tahu aneka ragam permainan anak-anak dari banyak daerah di Indonesia. Petualangan mereka membuatku menyadari betapa indah dan luasnya tanah airku. Aku tidak terlalu suka film kartun, apalagi sinetron. Banyakan orang marah-marah sih. Adikku juga menjerit-jerit ketakutan kalau melihat Naruto dan Aang beraksi. Umi memilihkan film kartun untuk kami nikmati. Dora, Diego, Blue Clues atau Backyardigan menjadi film favoritku dan adikku.
Aku jadi bertanya sama Umi, kalau di malam hari TV masih menyala, kapan dong waktunya anak-anak untuk belajar. Apa ayah dan ibunya juga masih punya waktu untuk sekedar ngobrol dengan anak-anak? Kan seharian setiap orang sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing? Padahal, kalau sudah di depan TV kan biasanya jadi males ngapa-ngapain.
Tanpa TV, banyak hal asyik yang bisa aku lakukan. Aku bisa bersepeda, lari-larian bersama teman, menggambar, mewarnai, main masak-masakan sama adikku, membaca buku, main rumah-rumahan di tenda, membuat binatang dari plastisin, bantuin Umi masak, menggunting-gunting, menempel. Pokoknya seru deh!