Kamis, 18 September 2008

Kantong Plastik

Beberapa saat setelah aku membuka mata di pagi hari, kadang Umi mengajakku jalan-jalan. Biasanya sih diajak ke warung untuk belanja sayur yang akan dimasak siang harinya. Ibu penjual warung yang ramah itu selalu memasukkan belanjaan yang sudah dihitung harganya ke dalam kantong plastik baru sebelum diserahkan kepada pelanggannya.
Jika dalam sehari ada 20 orang pembeli artinya jumlah plastik baru di dunia bertambah 20 kantong. Jika di desaku ada 10 orang penjual artinya ada 200 kantong plastik baru dalam sehari. Jika Indonesia memiliki 1000 desa, wow.. dalam sehari ada 200.000 lembar. Bagaimana kalau itu berlangsung selama seminggu, sebulan, setahun??? Waduh, ternyata banyak sekali ya. Padahal kata Ori (Majalah Ori), sampah plastik yang dibuang baru akan terurai setelah puluhan tahun. Wah, kan kasihan tanahnya. Bisa keracunan tuh bakteri-bakteri pengurai di dalam tanah. Nah itu yang menyebabkan banjir di musim hujan dan berkurangnya sumber air di musim kemarau.
Karena itulah Umi sering menolak plastik yang diberikan Ibu penjual dan sebagai gantinya menyerahkan plastik yang dibawanya sendiri dari rumah. Ga cuma di warung lo. Ke supermarket pun Umi selalu membawa kantong plastik, walaupun kadang hal itu membuat heran mbak kasirnya. Tidak jarang Umi harus bicara cukup lama sampai akhirnya dibolehkan untuk memasukkan belanjaan ke dalam kantong plastik lecek yang dibawanya. Nah untuk menghindari perdebatan, kami menyiapkan kantong plastik dengan label yang sesuai toko yang akan dituju. Jadi kalo ke Gramedia ya membawa kantong plastik dengan label Gramedia. Untuk jumlah barang belanjaan yang banyak, biasanya kami minta dibungkus dengan kardus besar. Walaupun sebenarnya agak repot juga kalau dibawa dengan naik sepeda motor. Tapi rasanya hal itu tidak seberapa dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan karena menumpuknya jumlah sampah plastik.
Jika setiap orang bisa mengurangi konsumsi kantong plastik mulai sekarang, Insya Allah aku yakin pada saat aku dewasa nanti bumi tidak akan terbebani menumpuknya sampah plastik. Semoga bumi masih layak untuk ditinggali sampai anak cucuku kelak.

Tidak ada komentar: