Hampir tiap tahun aku sekeluarga pindah rumah. Mulai dari tahun 2004, saat aku, abi dan ummi menempati rumah mungil di Joho Baru, Sukoharjo setelah sebelumnya di rumah Eyang. Sebuah tempat tinggal yang menyenangkan karena aku punya banyak teman main di sana. Ada mas Fadil, Marisa, Karin, Lintang, Karel, mbak Ifa dan mas Yuli.
Dua tahun kemudian, kami pindah lagi ke rumah Eyang di Wonogiri karena Ummi melahirkan adik Sofi. Aku sekolah di Kelompok Bermain Al Huda selama 3 bulan. Selanjutnya kami kembali lagi ke Sukoharjo dan aku sekolah di Kelompok Bermain Mutiara Insan Sukoharjo.
Di tahun 2007 Ummi mendapatkan kesempatan dan beasiswa sekolah di UGM, Jogja. Karena adik masih kecil dan perlu ASI, kami semua pindah ke dekat Kampus UGM. Tiap hari harus Abi berangkat pagi ke Solo dan pulang malam saat semua sudah tidur. Waktu itu aku sekolah di TKIT Salman Al Farisi 2 Klebengan Condong Catur Sleman. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Fakultas Peternakan UGM. Aku dan teman-teman di Salman pernah berkunjung ke kandang sapinya yang luas dan bersih.
Belum lama rasanya aku belajar dan bermain bersama teman-teman di kelas A2 Kura-kura, Annida, Anis, Lia, Alya, Raihan, Bari, Hilya, ketika Abi dan Ummi mengajak pindah lagi setahun kemudian. Kali ini ke Solo, biar Abi dekat jalannya ke kantor dan Ummi juga mudah naik kereta Prameks ke Jogja. Kami tinggal di Purbayan, Baki, Sukoharjo, sekitar 1 km dari palang sepur Makam Haji.
Aku menemui lagi sekolah, teman-teman dan bu guru baru di TKIT Permata Hati Kuwiran Makam Haji. Alhamdulillah, bu Ida, wali kelas B3 bilang ke Ummi kalau aku langsung bisa beradaptasi dengan teman-teman baruku. Ada Mila, Wafa, Tata, Aufa, Veda, Izza, Nina, Haqi, Syafa, Rafli, Egi, Syamil, Majid. Juga ada Bu Surya dan Bu Tina yang tak bosan mendengarkan cerita-ceritaku tentang porang.
Tahun ini aku masuk SD, adik Sofi masuk Kelompok Bermain. Tapi rutinitas pindah rumah masih belum berhenti. Untuk suatu alasan kami pindah lagi ke Wonogiri, kadang di rumah eyang, kadang di rumah simbah. Sekarang aku tercatat sebagai siswa baru kelas 1 SDIT Al Huda Wonogiri dan adik Sofi di Kelompok Bermain Mutiara Hati Wonogiri.
Kadang adik Sofi ngajak pulang ke Purbayan, rumah kami sebelumnya. Mungkin dia kangen. Aku dan adik sudah punya beberapa teman main di sana. Krisna, Valen, Iklis, Ebit.....
Tapi, sekian kali kepindahan kami selalu menyisakan kenangan manis bersama teman-teman. Aku punya banyak teman mulai dari Sukoharjo, Jogja, Solo dan Wonogiri. Mungkin tahun depan saat kami pindah lagi entah ke mana, akan ada lagi teman-teman baru dan juga pengalaman baru yang akan memperkaya hidupku. Insya Allah.
Sabtu, 11 Juli 2009
Kamis, 08 Januari 2009
Kamar baru
Sejak tinggal di Jogja, aku sudah menginginkan kamar terpisah dengan Abi Umi. Aku ingin punya kamar sendiri. Tapi aku ngerti rumah kontrakan di Jogja tidak terlalu luas dan cuma punya 2 kamar.
Ketika pindah ngontrak ke Purbayan, lagi-lagi cuma ada 2 kamar. Tapi ruangannya lebih luas, bahkan salah satu pojok ruangannya berhasil disulap Abi menjadi kamar yang nyaman untukku dan Adik.
Kamar ini asyik banget. Punya satu jendela besar di sisi selatan dan satu jendela kecil di sisi timurnya memungkinkan sinar matahari masuk dengan sempurna. Untuk sekat, Abi menempatkan satu meja belajar. Tapi karena kurang lebar, Umi memasang tirai panjang yang disangkutkannya di tali yang membentang antara kamar Umi dengan kamar mbak Tini. Tirai itu membuat kamarku jadi seperti kamar beneran yang tertutup.
Sekarang aku tidur berdua saja dengan adik. Sholat, main dan belajar kulakukan di dalam kamar. Biar semarak, aku menempelkan gambar-gambarku di dinding. Senangnya punya kamar baru
Ketika pindah ngontrak ke Purbayan, lagi-lagi cuma ada 2 kamar. Tapi ruangannya lebih luas, bahkan salah satu pojok ruangannya berhasil disulap Abi menjadi kamar yang nyaman untukku dan Adik.
Kamar ini asyik banget. Punya satu jendela besar di sisi selatan dan satu jendela kecil di sisi timurnya memungkinkan sinar matahari masuk dengan sempurna. Untuk sekat, Abi menempatkan satu meja belajar. Tapi karena kurang lebar, Umi memasang tirai panjang yang disangkutkannya di tali yang membentang antara kamar Umi dengan kamar mbak Tini. Tirai itu membuat kamarku jadi seperti kamar beneran yang tertutup.
Sekarang aku tidur berdua saja dengan adik. Sholat, main dan belajar kulakukan di dalam kamar. Biar semarak, aku menempelkan gambar-gambarku di dinding. Senangnya punya kamar baru
Senin, 22 Desember 2008
Liburan ke hutan
Kalau aku libur dan Abi juga ga ke kantor, biasanya kami pergi ke hutan. Abi harus merawat porang yang ditanamnya di hutan. Porang adalah tanaman sejenis suweg yang hanya bisa tumbuh di bawah pepohonan rindang. Hasil pengolahan porang adalah tepung konyaku yang merupakan bahan baku pembuatan jeli yaitu agar-agar sejenis Nutrijel.
Main di hutan asyik banget. Ga kalah menyenangkan dengan liburan ke Kids Fun. Abi dan Umi lebih sering mengajak kami liburan di hutan dari pada ke mall. Kan gratis..... sekaligus menyenangkan. Aku bisa berlari-lari di sela porang dan pohon jati kemudian mengamati pertumbuhan porang. Ada yang berupa bunga seperti bunga bangkai dan ada juga yang langsung tumbuh dengan daun dan batang yang sempurna. Ada beberapa tanaman yang tingginya sudah melebihi aku. Jadi bisa berteduh di bawahnya.
Di dekat hutan itu ada sebuah belik yang terlindungi akar-akar pohon asem. Airnya yang jernih mengalir melalui sungai kecil menuju ke tempat yang lebih rendah. Subhanallah, maha suci Allah yang telah memberi kemampuan akar pohon untuk menyerap air.
Dengan adanya belik kami tidak kesulitan mencari air untuk membersihkan tangan dan kaki yang belepotan kena lumpur. He..he... aku males pakai sandal, enak deh bisa nginjek-injek lumpur. Lagipula, kalau nekat pakai sandal, sandalnya bisa bertambah tebal karena lumpur. Jadi berat kalau jalan... Bisa-bisa aku kalah main kejar-kejaran dengan Opi.
Main di hutan asyik banget. Ga kalah menyenangkan dengan liburan ke Kids Fun. Abi dan Umi lebih sering mengajak kami liburan di hutan dari pada ke mall. Kan gratis..... sekaligus menyenangkan. Aku bisa berlari-lari di sela porang dan pohon jati kemudian mengamati pertumbuhan porang. Ada yang berupa bunga seperti bunga bangkai dan ada juga yang langsung tumbuh dengan daun dan batang yang sempurna. Ada beberapa tanaman yang tingginya sudah melebihi aku. Jadi bisa berteduh di bawahnya.
Di dekat hutan itu ada sebuah belik yang terlindungi akar-akar pohon asem. Airnya yang jernih mengalir melalui sungai kecil menuju ke tempat yang lebih rendah. Subhanallah, maha suci Allah yang telah memberi kemampuan akar pohon untuk menyerap air.
Dengan adanya belik kami tidak kesulitan mencari air untuk membersihkan tangan dan kaki yang belepotan kena lumpur. He..he... aku males pakai sandal, enak deh bisa nginjek-injek lumpur. Lagipula, kalau nekat pakai sandal, sandalnya bisa bertambah tebal karena lumpur. Jadi berat kalau jalan... Bisa-bisa aku kalah main kejar-kejaran dengan Opi.
Selasa, 16 Desember 2008
Hadiah Istimewa
Hari ini Abi pergi ke Jakarta dan baru pulang ke rumah besok malam. Tentu saja aku dan adikku tidak ikut karena Abi pergi untuk urusan pekerjaannya di kantor. Sebelum berangkat, Abi berjanji akan memberi hadiah istimewa untukku jika aku berhasil menjadi pemenang lomba nanti malam. Peserta lomba ada tiga orang, yaitu aku, adik dan Umi. Lombanya unik banget. Begini caranya. Aku membaca satu kata pada buku Iqro’ jilid 3 kemudian Umi menulis kata yang aku baca tadi pada buku belajarnya. Siapa yang paling duluan selesai, dialah pemenangnya. Kalau adik tidak ’ngusilin’ peserta lomba lain, maka adik juga jadi pemenang lomba. Asyik kan? Umi tidak pernah berhasil selesai lebih dulu dari pada aku. Adik juga sibuk main dengan papan tulis ajabnya. Jadi aku dan adik berhak mendapatkan hadiah istimewa dari Abi. Tapi kami masih harus menunggu Abi pulang keesokan harinya.
Alhamdulillah Abi berangkat dari Jakarta tepat waktu, sehingga jam 19.30 nanti Abi sudah bisa sampai di rumah. Aku berusaha keras untuk menunggu sampai Abi pulang dengan tidak segera tidur malam itu karena tidak tidur siang tadi. Tak sabar rasanya menunggu Abi pulang. Berkali-kali aku minta Umi menelepon Abi menanyakan di mana posisinya sekarang.
Akhirnya jam 7.45 tepat, Abi pulang dengan hadiah istimewanya. Tahukah kawan hadiah apakah yang dibawa Abi dari Jakarta untuk kami? Hadiah yang sangat istimewa itu adalah sebutir permen rasa anggur untuk adik dan rasa mangga untukku. Manis luar biasa J. Adik melompat-lompat saking senangnya. ”Enyak ya,” kata adikku. Aku bangga karena hadiah itu kuperoleh setelah bisa membaca iqro’ dengan lancar.
Umi juga pernah memberi kami hadiah istimewa itu saat kami berdua berhasil meninggalkan dot untuk minum susu. Sekarang kami berdua minum dengan cangkir 'cup-cup'.
Permen memang menjadi hadiah istimewa untuk kami, karena tidak setiap saat aku makan permen. Padahal aku sangat suka permen. Lihat nih, gigiku dan adikku masih utuh. Alhamdulillah, belum ada yang gigis alias keropos karena tidak ada 'monster gigi' yang mau menyerang.
Nah, hadiah istimewa kami sangat luar biasa kan?
Alhamdulillah Abi berangkat dari Jakarta tepat waktu, sehingga jam 19.30 nanti Abi sudah bisa sampai di rumah. Aku berusaha keras untuk menunggu sampai Abi pulang dengan tidak segera tidur malam itu karena tidak tidur siang tadi. Tak sabar rasanya menunggu Abi pulang. Berkali-kali aku minta Umi menelepon Abi menanyakan di mana posisinya sekarang.
Akhirnya jam 7.45 tepat, Abi pulang dengan hadiah istimewanya. Tahukah kawan hadiah apakah yang dibawa Abi dari Jakarta untuk kami? Hadiah yang sangat istimewa itu adalah sebutir permen rasa anggur untuk adik dan rasa mangga untukku. Manis luar biasa J. Adik melompat-lompat saking senangnya. ”Enyak ya,” kata adikku. Aku bangga karena hadiah itu kuperoleh setelah bisa membaca iqro’ dengan lancar.
Umi juga pernah memberi kami hadiah istimewa itu saat kami berdua berhasil meninggalkan dot untuk minum susu. Sekarang kami berdua minum dengan cangkir 'cup-cup'.
Permen memang menjadi hadiah istimewa untuk kami, karena tidak setiap saat aku makan permen. Padahal aku sangat suka permen. Lihat nih, gigiku dan adikku masih utuh. Alhamdulillah, belum ada yang gigis alias keropos karena tidak ada 'monster gigi' yang mau menyerang.
Nah, hadiah istimewa kami sangat luar biasa kan?
Senin, 20 Oktober 2008
Becak Mbah Tarso
Waktu aku di Jogja, sekolahku, TK Salman Al Farisi 2, terletak tidak terlalu jauh dari rumah. Sehingga, mbak Tini bisa menjemputku pulang sekolah dengan berjalan kaki bersama adik Sofi. Tapi sekolahku sekarang di Solo, TK Permata Hati Kuwiran, terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Karena Ummi maupun Abi tidak bisa tiap hari menjemputku pulang sekolah, aku pulang naik becak Mbah Tarso.
Mbah Tarso adalah tetangga kami di Perumahan Tiara Ardi Purbayan. Walaupun usianya sudah 70 tahun, Mbah Tarso masih kuat mengayuh becaknya. Hampir tiap hari Mbah Tarso mengantarku pulang ke rumah dengan becaknya. Belum pernah sekalipun Mbah Tarso terlambat menjemputku. Sebelum jam 12, becak mbah Tarso sudah diparkir di jalan depan sekolah. Dan begitu lonceng tanda pulang sekolah berbunyi, aku sudah melihat Mbah Tarso menungguku di depan pagar. Kalau Ummi yang jemput, kadang-kadang aku masih harus menunggu di depan pintu kelas
Aku duduk sendiri saja di becak Mbah Tarso yang melaju dari Kuwiran, Makam Haji menuju Purbayan. Alhamdulillah dengan tubuhku yang tidak terlalu berat, Mbah Tarso tidak terlalu kepayahan mengayuh becaknya. Naik becak itu asyik lo. Walaupun tidak memakai AC, aku tidak merasa gerah J . Kayak yang di lagu itu, bisa melihat dengan aksi ke kanan dan ke kiri
Mbah Tarso adalah tetangga kami di Perumahan Tiara Ardi Purbayan. Walaupun usianya sudah 70 tahun, Mbah Tarso masih kuat mengayuh becaknya. Hampir tiap hari Mbah Tarso mengantarku pulang ke rumah dengan becaknya. Belum pernah sekalipun Mbah Tarso terlambat menjemputku. Sebelum jam 12, becak mbah Tarso sudah diparkir di jalan depan sekolah. Dan begitu lonceng tanda pulang sekolah berbunyi, aku sudah melihat Mbah Tarso menungguku di depan pagar. Kalau Ummi yang jemput, kadang-kadang aku masih harus menunggu di depan pintu kelas
Aku duduk sendiri saja di becak Mbah Tarso yang melaju dari Kuwiran, Makam Haji menuju Purbayan. Alhamdulillah dengan tubuhku yang tidak terlalu berat, Mbah Tarso tidak terlalu kepayahan mengayuh becaknya. Naik becak itu asyik lo. Walaupun tidak memakai AC, aku tidak merasa gerah J . Kayak yang di lagu itu, bisa melihat dengan aksi ke kanan dan ke kiri
Kamis, 16 Oktober 2008
Lubang Biopori..
Umi punya barang baru, katanya bor buat bikin lubang biopori. Panjang banget, lebih tinggi dari aku, apalagi adik.
Kami sudah bikin satu lubang di samping rumah. Pertamanya abi yang bikin lubang, terus aku, umi, dan adik, semuanya bantuin. Nggak selesai-selesai karena dalam banget. Batang bornya saja sampai hampir tenggelam semua.
Kata abi, lubang itu dibuat untuk kemudian diisi dengan sampah organik. Terus ditutup bagian atasnya dengan kaleng bekas susu Ayi, yang dilubangi kecil-kecil dan ditutupkan terbalik.
Sampah di dalam lubang itu akan menarik cacing dan binatang di dalam tanah, terus mereka akan membuat lubang-lubang kecil di sekitar lubang yang bekas di bor.
Karena ada lubang biopori ini, air hujan akan lebih cepat diserap sama tanah, dan tidak menggenang.
Mungkin memang harus begitu, soalnya pas hujan pertama kali, got di depan rumah sudah penuh dengan air rata dengan jalan. Tinggal sedikit lagi, pasti sudah masuk rumah..
Hii sereemm.. kalau air masuk rumah semua bajuku di lemari bisa basah kebanjiran, tendaku juga dong..
Kami sudah bikin satu lubang di samping rumah. Pertamanya abi yang bikin lubang, terus aku, umi, dan adik, semuanya bantuin. Nggak selesai-selesai karena dalam banget. Batang bornya saja sampai hampir tenggelam semua.
Kata abi, lubang itu dibuat untuk kemudian diisi dengan sampah organik. Terus ditutup bagian atasnya dengan kaleng bekas susu Ayi, yang dilubangi kecil-kecil dan ditutupkan terbalik.
Sampah di dalam lubang itu akan menarik cacing dan binatang di dalam tanah, terus mereka akan membuat lubang-lubang kecil di sekitar lubang yang bekas di bor.
Karena ada lubang biopori ini, air hujan akan lebih cepat diserap sama tanah, dan tidak menggenang.
Mungkin memang harus begitu, soalnya pas hujan pertama kali, got di depan rumah sudah penuh dengan air rata dengan jalan. Tinggal sedikit lagi, pasti sudah masuk rumah..
Hii sereemm.. kalau air masuk rumah semua bajuku di lemari bisa basah kebanjiran, tendaku juga dong..
Minggu, 21 September 2008
Main Pasir
Aku seneng simbah mbangun rumah lagi. Bukan karena rumah baru ini lebih bagus, atau lebih dekat ke rumah eyang. Tapi karena buat mbangun rumah pasti perlu pasir..Hi hi.. tentu saja..
Aku seneng banget bisa main di tumpukan pasir. Kalau gundukannya masih tinggi, setelah susah payah manjat sampai puncak, turunnya bisa sambil meluncur... wiiiii... Jangankan Shofi, yang sering keplorot kalo manjat, kak Si dan kak Uli saja sering keasyikan main, sampai diteriak-teriaki sama simbah.
Kalau pasir sudah hampir habis, na.. giliran main gua-guaan. Setelah digali sampai tanganku nggak bisa masuk lagi saking dalamnya, mainan abi waktu kecil, kayak boneka beruang plastik, keledai, kuda-kudaan kecil, semuanya masuk ke gua. Pura-puranya mereka sembunyi di situ..
Pernah mereka sampai tidur di situ, gara-garanya aku lupa ngambil dan bersihkan mainan itu dari pasir. Hi hi hi..
Aku seneng banget bisa main di tumpukan pasir. Kalau gundukannya masih tinggi, setelah susah payah manjat sampai puncak, turunnya bisa sambil meluncur... wiiiii... Jangankan Shofi, yang sering keplorot kalo manjat, kak Si dan kak Uli saja sering keasyikan main, sampai diteriak-teriaki sama simbah.
Kalau pasir sudah hampir habis, na.. giliran main gua-guaan. Setelah digali sampai tanganku nggak bisa masuk lagi saking dalamnya, mainan abi waktu kecil, kayak boneka beruang plastik, keledai, kuda-kudaan kecil, semuanya masuk ke gua. Pura-puranya mereka sembunyi di situ..
Pernah mereka sampai tidur di situ, gara-garanya aku lupa ngambil dan bersihkan mainan itu dari pasir. Hi hi hi..
Langganan:
Postingan (Atom)
